Kebajikan Bushido 1 : Kesungguhan

Bushido – Kebajikan pertama adalah Kesungguhan ( gi) dalam bahasa Indonesia berarti sungguh-sungguh atau ketulusan. Ini terkait dengan piramida 7 Kebajikan Bushido yang akan kita bahas. Awal dari melakukan sebuah niatan atau tujuan haruslah diawali dengan sebuah kesungguhan atau ketulusan seseorang. Atau bisa diartikan ikhlas menjalani semuanya apapun halangan atau rintangannya. Dan dalam melakukannya perlu juga sebuah keseriusan.

Bushido_gi

Kita mengambil contoh kesungguhan seorang ayah untuk bisa menafkahi anak-anaknya, atau seorang ibu yang bersungguh-sungguh untuk merawat anaknya meski nanti ketika anak-anaknya menjadi dewasa belum tentu akan mengasihinya. Bukan hanya karena menjadi sebuah kewajiban bagaimana seorang ayah atau ibu bersikap kepadanya, tetapi ini dilakukan dengan HATI. Begitu juga dengan kesungguhan yang disebutkan dalam kode pertama dalam Bushido. Mereka yang mau belajar di jalan kesatria ini, selain harus dengan serius juga dengan keikhlasan hatinya.

Bagaimana aplikasinya dalam kendo ?

Entah berapa banyak diantara kita yang saat berlatih kendo bukan dari hati, tetapi karena merasa sebuah kewajiban saja, sehingga datang ke dojo hanya sebagai formalitas. Mungkin karena merasa sudah membayar iuran setiap bulan, jadi daripada sia-sia lebih baik datang latihan saja. Atau karena merasa tidak enak dengan senpai / sensei yang mengajar karena seringnya di chat untuk diajak latian ke dojo.

Ada juga yang datang ke dojo karena ajakan teman, ingin bertemu dengan teman-teman yang nanti saat selesai latihan bisa nongkrong bersama. Jadi latihan kendo hanyalah sebuah sarana untuk bertemu dan tujuan utamanya adalah bertemu, nongkrong, atau ngobrol. Itu bukanlah sikap yang bisa dimasukkan dalam kebajikan Bushido ini.

Kesungguhan yang sebenarnya adalah memang dari awal berangkat ke dojo adalah untuk berlatih. Untuk menyempurnakan apa yang menjadi kelemahan dengan sungguh-sungguh. Menambah porsi latian sendiri diluar dojo yang dilakukan untuk semakin menyempurnakan skill kendo, merupakan sebuah pembuktian akan keseriusan untuk berlatih kendo. Dan aku yakin sebuah kesungguhan ini akan membuat kendo mu menjadi lebih baik. Mengerti akan tujuan utama datang berlatih ke dojo, adalah sebuah langkah awal untuk bisa melakukan 7 kebajikan Bushido.

Applikasinya dalam kehidupan sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari pun kebajikan ini akan membantumu untuk lebih sungguh-sungguh dalam pekerjaan, atau mungkin mimpi-mimpi mu. Mengerjakan sesuatu dengan serius, cermat, dan tepat akan membuatmu mudah merealisasikannya. Siapa atasan yang tidak suka juga dengan karyawan yang dengan sungguh-sungguh mengerjakan setiap tugas yang dia berikan ? semua atasan pasti merasa senang mempunyai karyawan seperti ini.

Keseriusan dan keikhlasan akan membuat kamu menjadi pribadi yang tekun dan tidak mudah sakit hati atau kecewa karena kamu sudah membuat sesuatu yang kamu ingin kan dengan segala upaya, kehati-hatian, dan keseriusan yang kamu punya. Itulah kebijakan pertama yang bisa kamu dapat dan applikasikan dalam kehidupan kendo bahkan kehidupan sehari-hari mu.

Tunggu pembahasan selanjutnya terkait dengan Bushido ini.

Terimakasih ! 

Bushido

Bushido yang bisa diartikan adalah tatacara ksatria adalah sebuah kode etik keksatriaan golongan samurai dalam feodalisme Jepang. Bushido berasal dari nilai-nilai moral seorang samurai, yang paling sering menekankan beberapa kombinasi dari kesederhanaan, kesetiaan, penguasaan seni beladiri, dan kehormatan sampai mati. Itu yang bisa diambil dari wikipedia jika kita mencoba mencari di google.

Bushido juga sering dikumandangakan oleh tentara Jepang dalam masa perang dunia kedua. Mereka setia akan negara mereka, bahkan jika kalah perang dan malu, mereka tak segan-segan melakukan seppuku, atau bunuh diri ala samurai. Bagi mereka itu adalah cara mati yang terhormat ketika rasa malu mereka sudah tidak tertahankan lagi.

Bushido sendiri ditandai dengan tujuh kebajikan yaitu :

  • Kesungguhan ( gi)
  • Keberanian ( yu)
  • Kebajikan ( jin)
    • Kesalehan ( ko)
    • Kebijaksanaan ( chi)
    • Merawat orang tua ( tei)
  • Penghargaan ( rei)
  • Kejujuran ( makoto)
  • Kehormatan (名誉 meiyo)
  • Kesetiaan (忠义 chūgi)

Dan hal inilah yang di yakini para samurai sebagai jalan kesatria mereka. Nanti akan dibahas satu persatu tentang bagaimana pengaplikasiannya dalam kehidupan menurut versi aku ya. 😀

fdsfdsfds_1024x1024402x
credit to https://www.google.com/

Lalu apa hubungan dengan kendo ?

Setiap seni beladiri yang berasal dari Jepang, pasti terbentuk dengan dasar untuk menumbuhkan semangat Bushido, atau membentuk karakter seorang kesatria dalam beladiri atau jalan yang mereka pilih.

Kendo yang secara harafiah adalah jalan pedang, dari kata “Ken” yang berarti pedang dan “Do” yang berarti jalan. Hal ini berarti cara untuk membentuk karakter seorang Bushido atau kesatria lewat jalan pedang atau berlatih pedang. Jadi, penting untuk setiap kendoka mempunyai jiwa seorang Bushido dalam membentuk karakter mereka.

Nah itu dulu artikel yang bisa aku share sebagai awal untuk pembahasan Bushido dalam kehidupan sebagai manusia dan kendoka.

Terimakasih dan semoga bermanfaat.

Berjaya di tanah Rival

Buat penggemar olahraga kendo, tentu sudah tidak asing dengan “panas” nya persaingan antara tim kendo Jepang dan Korea Selatan. Kedua negara ini sudah terlalu sering bertemu di partai final, bahkan bisa dibilang superior. Selain itu juga ada tim dari negara USA, Brazil, China Taipei yang juga bisa menjadi “kuda hitam” dalam dunia per-kendo an ini. Di setiap menjelang World Kendo Champhionship (WKC), selalu saja di setiap forum-forum kendo internasional akan membahas kedua negara ini. Bagi yang belum tahu, di Korea Selatan sendiri lebih dikenal olahraga Kendo dengan nama Kumdo. Bagaimana Kumdo itu ? mungkin nanti bisa dijelaskan di artikel berbeda. 🙂

Nah seperti judul diatas, kali ini aku akan membahas tentang bagaimana sengitnya pertandingan antara tim Jepang vs tim Korsel. Kenapa aku sebut ini sebagai “berjaya di tanah rival” ? karena pada WKC tahun 2018 ini diadakan di Incheon, Korea Selatan, dimana tim Korsel menjadi tuan rumah dari 56 negara peserta yang hadir waktu itu.

41732493_1204000253100344_4098231049081847808_o
credit to https://www.facebook.com/KendoPhotography/

Jalan menuju final bagi 2 tim superior ini bisa dibilang agak berbeda, tim Jepang sebagai yang diunggulkan banyak menang mudah untuk bisa lolos hingga final, dan di semifinal mereka menghadapi China Taipei (Taiwan) dengan skor 5-0. Berbeda dengan tim tuan rumah yang harus melewati partai sengit melawan tim USA yang akhirnya di menangkan dengan skor 2-0. Dan pada akhirnya dua tim super itu lagi-lagi bertemu di final. Pastinya kedua tim membawa gengsinya sendiri-sendiri. Tim Jepang sebagai tim yang belum pernah terkalahkan beberapa tahun belakangan ini pastinya masih ingin memegang rekor sempurna tersebut, dan tim Korsel sebagai tuan rumah tentunya tidak mau malu di depan public nya sendiri.

Pertandingan final pun tersaji dengan tensi panas dan bisa aku bilang banyak drama terjadi. Diawali dengan pertandingan pertama antara Yasuki Maeda vs Byun Hoon Park yang berakhir seri meski pemain pertama Korsel tersebut lebih dahulu mendapatkan poin. Di pertandingan kedua dan ketika tim Korsel harus mengakui ketangguhan Keita Hoshiko & Yuya Takenouchi yang mengalahkan mereka dengan skor masing-masing 1 ippon. Tim Jepang bisa saja mutlak menjadi pemenang jika saja pemain keempat (fukusho) Hidehisa Nishimura bisa memenangkan pertandingan melawan Mak Uk Jang. Harapan itu ada saat Nishimura bisa mendapatkan 1 poin ippon dari Uk Jang, tapi sayang di sisa waktu harus kalah dari pemain bertinggi badan 2 meter lebih itu. Pertandingan terakhir pun semakin berat dengan skor 2-1 untuk keunggulan Jepang. Pemain kelima, atau yang terakhir, Sho Ando harus menahan skor seri pertandingan melawan Jin Yong Jo jika ingin lolos sebagai pemenang. Nah disinilah pertandingan semakin seru. Bermain dengan tensi tinggi dan cenderung kasar diperlihatkan dalam pertandingan ini. Bahkan beberapa teman dari negara lain seperti bingung apakah hal seperti itu diperbolehkan, dan lain sebagainya.

japaneseplayers-1080x567-1
credit to https://kendojidai.com/

Meski terlihat bermain dengan cara kasar, tetapi hal tersebut masih tidak termasuk dalam pelaggaran dalam pertandingan kendo. Tetapi secara pribadi, aku melihat disinilah mental para pemain Jepang ini diuji. Selain karena beban mereka sebagai juara bertahan dan tim yang menjadi role model dari berbagai tim di dunia yang sekarang secara langsung melihat pertandingan mereka, tekanan dari tuan rumah juga sangat pengaruh. Aku yang berada di arena pun merasa merinding mendengar sorakan penonton saat pemain Korsel bisa mendapatkan poin, benar-benar sebuah aura yang berbeda dan bisa merasakan bertanding dengan banyak orang, bukan lagi satu tim di depan mereka saja.

Peluit pertandingan pun dibunyikan tanda pertandingan berakhir dengan skor 1-1, dan ini membuat tim Jepang lagi-lagi menjadi juara ke 16 kalinya dari 17 kali pertandingan dunia ini di gelar (pada tahun 2006 dimenangkan oleh tim Korsel). Dan diakhir pertandingan, saat mereka kembali ke tempat para pemain, aku melihat wajah bahagia dan puas setelah mengalahkan tuan rumah dengan tensi yang sangat tinggi dan tekanan yang sangat kuat dari pendukungnya. Dan tim Jepang bisa pulang dengan kepala tegak karena mereka bisa mengalahkan segalanya.

Apa yang bisa diambil pelajaran dari mereka ?

Fokus, yakin, kerja keras, dan mental kuat sebagai juara. Memang tim Jepang terdiri dari mereka yang sudah berlatih kendo dengan waktu yang lama, karena memang itu sudah tradisi mereka untuk membantuk jiwa seorang samurai. Tetapi tidak berarti juga kita sebagai bangsa Indonesia, orang Indonesia, tidak bisa seperti mereka yang mempunyai jiwa pantang menyerah dan bermental juara. Dan hasilnya, mereka bisa merayakan kemenangan di tanah rival mereka. Jika mereka bisa, kenapa kita tidak ? go Indonesia!

Semoga artikel ini bermanfaat. Terimakasih. 🙂

Latihan Tidak Pernah Bohong

“Latihan tidak pernah bohong”, itu kata-kata dari Sudo sensei yang selalu terucap setiap kali kita latihan atau sehabis latihan. Bahkan di beberapa kesempatan saat makan malam bersama setelah latihan, sensei tidak pernah bosan untuk memberitahukan hal tersebut.

Yah, memang sesuatu yang selalu dilatih itu secara intens atau terus menerus bisa membuat badan kita ini terbiasa dengan gerakan-gerakan tersebut. Atau perumpamaan seperti pisau, jika dia diasah terus secara teratur, pasti ketajamannya akan selalu terjaga juga. Begitu juga kendo, meski gerakannya monoton, tetapi jika kita melakukannya dengan benar, pasti akan bermanfaat bagi diri kita sendiri.

“Latihan tidak bohong ? tetapi dia jarang latian bisa jadi juara, lha aku yang sering latihan masih kalah saja”

Ungkapan diatas sering aku dengar dari teman-teman atau para kohai yang sepertinya kurang puas dengan hasil turnamen yang mereka dapat. Ucapan seperti itu sempat tertanam di pikiran ku, bahkan mental merasa down kalau tahu bahwa lawan kita orang yang mungkin jarang latian, atau intens latiannya kurang dari aku yang bisa seminggu dua sampai tiga kali latihan demi mendapatkan hasil terbaik di turnamen yang aku ikuti. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku mulai paham bahwa pemikiran seperti itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Hal seperti itu kembali lagi ke DIRI KITA SENDIRI.

Ada beberapa hal yang perlu dipikirkan sebelum terucap ungkapan atau asumsi seperti itu dalam mulut atau pikiran kita. Nah, coba deh pikirkan dan jawab dengan jujur pada dirimu pada hal-hal ini :

  1. Sudah latihan dengan benar ?

Gimana nih maksud dengan latihan yang benar ? apakah gerakan harus benar ? atau memilih pelatih yang benar ? Kalau masalah gerakan pastinya harus benar, tetapi yang lebih penting adalah apakah sudah fokus saat latian dengan setiap gerakan dan target nya, jika masih sekedar asal-asal an cuma sekedar banyak suburi atau banyak lari puterin dojo sih sudah nggak benar. Lalu apa fisik sedang fit dan siap buat menerima menu latihan dari sensei / senpai di dojo ? kalau hanya sekedar datang, ikut di setengah jam awal dan akhirnya duduk terus sampai latihan selesai, ya mana bisa dapat hasil maksimal. 😀

 

  1. Percaya diri nggak saat bertanding ?

Waktu sudah masuk arena, apakah sudah percaya dengan kemampuan sendiri ? Hal seperti ini tidak hanya terjadi buat mereka yang masih muda atau baru pertama kali ikut kejuaraan, tetapi yang sudah sering juga banyak. Ini yang biasanya buat demam panggung, sering ke kamar mandi, gemetaran, dan lain-lain, bahkan aku juga terkadang begitu hehehe… Padahal setiap latihan tidak selalu bolos lho, kok masih nggak percaya diri ? hayooo….

  1. Gimana perasaan waktu bertanding ?

Latihan benar sudah, percaya diri ama apa yang udah dilatihkan juga udah, terus kok masih kalah ? Coba deh rasakan lagi saat kamu bertanding, jujur pada diri sendiri bagaimana perasaan saat bertanding dengan lawan di arena. Apakah sudah memberikan yang terbaik ? ataukah masih ada rasa takut terhadap lawan ? Jika masih dengan lawan banyak mundur-mundur, takut kena serang, dan lain-lain, yah tidak bisa menang meski lawannya hanya berlatih sebulan sekali juga.

Karena saat di arena itulah mental mu diuji, kepercayaan akan kemampuan dirimu sendiri diuji, keyakinan akan setiap apa yang dilatihkan itu bisa kamu lakukan dengan baik. Dan penentuan kamu bisa meraih sebuah kemenangan dalam shiai / pertandingan itu adalah dirimu sendiri, bukan orang lain. Mereka yang diluar arena hanyalah pendukungmu, bahkan pelatih yang diluar arena pun hanya bisa melihat kamu bertanding, karena itu adalah tantangan yang harus kamu hadapi dengan kemampuanmu sendiri.

Jangan mengeluh

Nah, dari tiga hal yang aku sebut diatas, semoga kalian bisa memikirkan kembali dan memperbaiki masalah dalam diri kalian untuk mencapai hasil yang maksimal. Kendo mengajarkan kita untuk mempunyai jiwa ksatria dengan semangat bushido. Kendo tidak mengajarkan kita untuk mudah menyerah, mudah mengeluh, dan menyalahkan orang lain atas kegagalan kita. Tetapi hal itu harus kembali lagi jadi introspeksi pada diri kita sendiri.

Semoga artikel ini bermanfaat buat kalian, guys.

Sankyuu 😀

 

Kendo, Jiwa pantang menyerah

Berlatih kendo, bukanlah hanya soal melatih skill saja, jika mau lebih di dalami, latihan dalam kendo dapat terbawa dalam kehidupan kita sehari-hari. Ambillah contoh tentang Shikai, Mokuso, Rei, yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, menurut pendapat saya yang masih seumur jagung dalam kendo, masih cupu banget, ada satu hal yang diajarkan kendo dalam kehidupan saya, yaitu jiwa pantang menyerah. Yah, jiwa pantang menyerah, jiwa fighter kalau kata orang. Beberapa kali saya kadang berbincang dengan sensei-sensei saya, seperti Masukata sensei dan Sudo sensei (karena emang sering kumpul ama mereka, temani minum) Hehehehe…. mereka banyak mengajarkan tentang bagaimana harus berkendo, seperti kutipan seperti ini :

Kalau keiko, jangan berhenti sebelum dapat poin –  Masukata Sensei

Kalau latihan sudah lelah, tidak bisa pukul, jangan berhenti. Harus coba satu kali lagi.. satu kali lagi… lagi dan lagi Sudo sensei

Dua quote itu selalu saya tanamkan dalam diri saya. Inti dari dua quote itu adalah jangan mudah menyerah. Dan untuk kedua hal itu, setiap kali keiko wajiblah saya dan teman-teman lain (para senior di dojo) selalu mencari pasangan keiko yang skill nya hampir sama atau lebih tinggi. Jarang buat kita untuk berpasangan dengan kohai kita, jika ada sensei atau senpai yang lebih tinggi tingkatan dari kita di dojo. Menciptakan jiwa pantang menyerah itu sangat sulit, ya harus diakui itu. Mungkin teman-teman yang berlatih kendo tahu bagaimana lelah, berat, pusing nya berlatih kendo dengan pasangan yang lebih hebat dari kita, apalagi sensei. Sudah pasti kita bakal jadi sandsack hidup buat mereka, tapi dari situlah belajar untuk tidak mudah menyerah mencari sedikitnya satu poin ippon saja dari mereka. Memang sulit, tapi ingat, semangat pantang menyerah itu harus tumbuh di setiap kendo kenshin.

IMG-20140824-WA0000

Lalu bagaimana jiwa pantang menyerah itu bisa tumbuh dalam diri saya ?
Dulu, sewaktu saya masih lebih cupu dari pengalaman kendo sekarang, saya suka dengan zona nyaman saya di kendo. Saya sebisa mungkin menghindari keiko dengan sensei, mentok-mentok juga dengan senpai-senpai yang masih orang Indonesia, bahkan dengan sensei saya sendiri. Karena saya tahu bahwa sudah pasti saya kalah dalam segala hal dengan mereka, yang aku dapat hanya capek dan malu. Sampai akhirnya Shimomura sensei, sensei dari Jakarta pernah bilang pada saya yang memilih melepas men lama-lama saat sesi Godou keiko. Begini teguran beliau yang sampai sekarang mengena di hati :

“You are senior in your dojo, you have many kohai isnt it ? You want all your kohai have a fighting spirit. How about you ?  come on, show your spirit with still wear your bogu, keiko with all sensei in here. Your kohai will see your attitude, so he will follow you. Wake up, wear your men, don’t give up! “

Begitulah teguran keras yang membuat saya harus kembali berpikir 180 derajat dalam menjalani kendo ini. Semangat pantang menyerah dan menjadi contoh untuk para kohai menjadi salah satu motivasi saya untuk bisa terus berdiri dan mengikuti setiap kegiatan kendo bersama para senpai dan sensei yang hebat-hebat.

Gambaran tentang pengalaman saya ini, semoga bisa menjadi sebuah inspirasi buat teman-teman yang membaca artikel sederhana ini.  Jika anda masih seorang kohai, baik itu ditanamkan sedini mungkin sehingga anda akan mengerti manfaat dalam berlatih kendo. Jika and seorang senior, baiklah ini menjadi sebuah inspirasi anda bagaimana memotivasi dan menjadi teladan bagi kohai anda. Kita tidak bisa menyuruh seseorang seperti yang kita mau, jika kita tidak memberikan contoh.

Sankyuu 🙂