Bushido

Bushido yang bisa diartikan adalah tatacara ksatria adalah sebuah kode etik keksatriaan golongan samurai dalam feodalisme Jepang. Bushido berasal dari nilai-nilai moral seorang samurai, yang paling sering menekankan beberapa kombinasi dari kesederhanaan, kesetiaan, penguasaan seni beladiri, dan kehormatan sampai mati. Itu yang bisa diambil dari wikipedia jika kita mencoba mencari di google.

Bushido juga sering dikumandangakan oleh tentara Jepang dalam masa perang dunia kedua. Mereka setia akan negara mereka, bahkan jika kalah perang dan malu, mereka tak segan-segan melakukan seppuku, atau bunuh diri ala samurai. Bagi mereka itu adalah cara mati yang terhormat ketika rasa malu mereka sudah tidak tertahankan lagi.

Bushido sendiri ditandai dengan tujuh kebajikan yaitu :

  • Kesungguhan ( gi)
  • Keberanian ( yu)
  • Kebajikan ( jin)
    • Kesalehan ( ko)
    • Kebijaksanaan ( chi)
    • Merawat orang tua ( tei)
  • Penghargaan ( rei)
  • Kejujuran ( makoto)
  • Kehormatan (名誉 meiyo)
  • Kesetiaan (忠义 chūgi)

Dan hal inilah yang di yakini para samurai sebagai jalan kesatria mereka. Nanti akan dibahas satu persatu tentang bagaimana pengaplikasiannya dalam kehidupan menurut versi aku ya. 😀

fdsfdsfds_1024x1024402x
credit to https://www.google.com/

Lalu apa hubungan dengan kendo ?

Setiap seni beladiri yang berasal dari Jepang, pasti terbentuk dengan dasar untuk menumbuhkan semangat Bushido, atau membentuk karakter seorang kesatria dalam beladiri atau jalan yang mereka pilih.

Kendo yang secara harafiah adalah jalan pedang, dari kata “Ken” yang berarti pedang dan “Do” yang berarti jalan. Hal ini berarti cara untuk membentuk karakter seorang Bushido atau kesatria lewat jalan pedang atau berlatih pedang. Jadi, penting untuk setiap kendoka mempunyai jiwa seorang Bushido dalam membentuk karakter mereka.

Nah itu dulu artikel yang bisa aku share sebagai awal untuk pembahasan Bushido dalam kehidupan sebagai manusia dan kendoka.

Terimakasih dan semoga bermanfaat.

Berjaya di tanah Rival

Buat penggemar olahraga kendo, tentu sudah tidak asing dengan “panas” nya persaingan antara tim kendo Jepang dan Korea Selatan. Kedua negara ini sudah terlalu sering bertemu di partai final, bahkan bisa dibilang superior. Selain itu juga ada tim dari negara USA, Brazil, China Taipei yang juga bisa menjadi “kuda hitam” dalam dunia per-kendo an ini. Di setiap menjelang World Kendo Champhionship (WKC), selalu saja di setiap forum-forum kendo internasional akan membahas kedua negara ini. Bagi yang belum tahu, di Korea Selatan sendiri lebih dikenal olahraga Kendo dengan nama Kumdo. Bagaimana Kumdo itu ? mungkin nanti bisa dijelaskan di artikel berbeda. 🙂

Nah seperti judul diatas, kali ini aku akan membahas tentang bagaimana sengitnya pertandingan antara tim Jepang vs tim Korsel. Kenapa aku sebut ini sebagai “berjaya di tanah rival” ? karena pada WKC tahun 2018 ini diadakan di Incheon, Korea Selatan, dimana tim Korsel menjadi tuan rumah dari 56 negara peserta yang hadir waktu itu.

41732493_1204000253100344_4098231049081847808_o
credit to https://www.facebook.com/KendoPhotography/

Jalan menuju final bagi 2 tim superior ini bisa dibilang agak berbeda, tim Jepang sebagai yang diunggulkan banyak menang mudah untuk bisa lolos hingga final, dan di semifinal mereka menghadapi China Taipei (Taiwan) dengan skor 5-0. Berbeda dengan tim tuan rumah yang harus melewati partai sengit melawan tim USA yang akhirnya di menangkan dengan skor 2-0. Dan pada akhirnya dua tim super itu lagi-lagi bertemu di final. Pastinya kedua tim membawa gengsinya sendiri-sendiri. Tim Jepang sebagai tim yang belum pernah terkalahkan beberapa tahun belakangan ini pastinya masih ingin memegang rekor sempurna tersebut, dan tim Korsel sebagai tuan rumah tentunya tidak mau malu di depan public nya sendiri.

Pertandingan final pun tersaji dengan tensi panas dan bisa aku bilang banyak drama terjadi. Diawali dengan pertandingan pertama antara Yasuki Maeda vs Byun Hoon Park yang berakhir seri meski pemain pertama Korsel tersebut lebih dahulu mendapatkan poin. Di pertandingan kedua dan ketika tim Korsel harus mengakui ketangguhan Keita Hoshiko & Yuya Takenouchi yang mengalahkan mereka dengan skor masing-masing 1 ippon. Tim Jepang bisa saja mutlak menjadi pemenang jika saja pemain keempat (fukusho) Hidehisa Nishimura bisa memenangkan pertandingan melawan Mak Uk Jang. Harapan itu ada saat Nishimura bisa mendapatkan 1 poin ippon dari Uk Jang, tapi sayang di sisa waktu harus kalah dari pemain bertinggi badan 2 meter lebih itu. Pertandingan terakhir pun semakin berat dengan skor 2-1 untuk keunggulan Jepang. Pemain kelima, atau yang terakhir, Sho Ando harus menahan skor seri pertandingan melawan Jin Yong Jo jika ingin lolos sebagai pemenang. Nah disinilah pertandingan semakin seru. Bermain dengan tensi tinggi dan cenderung kasar diperlihatkan dalam pertandingan ini. Bahkan beberapa teman dari negara lain seperti bingung apakah hal seperti itu diperbolehkan, dan lain sebagainya.

japaneseplayers-1080x567-1
credit to https://kendojidai.com/

Meski terlihat bermain dengan cara kasar, tetapi hal tersebut masih tidak termasuk dalam pelaggaran dalam pertandingan kendo. Tetapi secara pribadi, aku melihat disinilah mental para pemain Jepang ini diuji. Selain karena beban mereka sebagai juara bertahan dan tim yang menjadi role model dari berbagai tim di dunia yang sekarang secara langsung melihat pertandingan mereka, tekanan dari tuan rumah juga sangat pengaruh. Aku yang berada di arena pun merasa merinding mendengar sorakan penonton saat pemain Korsel bisa mendapatkan poin, benar-benar sebuah aura yang berbeda dan bisa merasakan bertanding dengan banyak orang, bukan lagi satu tim di depan mereka saja.

Peluit pertandingan pun dibunyikan tanda pertandingan berakhir dengan skor 1-1, dan ini membuat tim Jepang lagi-lagi menjadi juara ke 16 kalinya dari 17 kali pertandingan dunia ini di gelar (pada tahun 2006 dimenangkan oleh tim Korsel). Dan diakhir pertandingan, saat mereka kembali ke tempat para pemain, aku melihat wajah bahagia dan puas setelah mengalahkan tuan rumah dengan tensi yang sangat tinggi dan tekanan yang sangat kuat dari pendukungnya. Dan tim Jepang bisa pulang dengan kepala tegak karena mereka bisa mengalahkan segalanya.

Apa yang bisa diambil pelajaran dari mereka ?

Fokus, yakin, kerja keras, dan mental kuat sebagai juara. Memang tim Jepang terdiri dari mereka yang sudah berlatih kendo dengan waktu yang lama, karena memang itu sudah tradisi mereka untuk membantuk jiwa seorang samurai. Tetapi tidak berarti juga kita sebagai bangsa Indonesia, orang Indonesia, tidak bisa seperti mereka yang mempunyai jiwa pantang menyerah dan bermental juara. Dan hasilnya, mereka bisa merayakan kemenangan di tanah rival mereka. Jika mereka bisa, kenapa kita tidak ? go Indonesia!

Semoga artikel ini bermanfaat. Terimakasih. 🙂