Memaknai Pedang

Apa yang kalian pikirkan saat pertamakali melihat sebuah senjata tajam ?

Takut ? Penasaran ? Kagum ? Biasa saja ?

hehehe…. banyak pasti ekspresi dan pemikirannya. Kalau senjata itu hanya terlihat saja tanpa ada yang membawa atau memakainya, pasti biasa saja, tapi bagaimana jika malam2 mungkin, ketika berjalan sendiri ada seorang berwajah bengis jalan sambil bawa2 pedang atau golok ke arahmu ? hahahahaha… pasti ada yang ketakutan dan kabur ya… hahahaha…. Banyak dari kita yang melihat hal seperti itu jadi berpikiran macam2 dan kebanyakan berpikiran buruk dulu. hehehehe….Begitu juga hal yang ingin aku bahas pada postingan kali ini… yah masalah hobby lagi, Kendo. hehehe… jangan bosan ya.. hahahaha….

Kendo, yang artinya Jalan Pedang, mengajarkan pada kita bagaimana lebih bisa melatih diri kita lewat mediasi pedang atau berlatih dengan pedang. Memang bukan pedang sesungguhnya seperti IAIDO atau pedang kayu seperti Kenjutsu, tapi dengan pedang bambu. Kendo bisa juga dibilang olahraga merangkap jalan hidup, atau sebaliknya. Berbeda dengan dua jenis beladiri yang aku sebutkan tadi, meski kalau bisa seorang kendo kenshin bisa menguasainya juga untuk membantu dalam hal berkendo, tapi tidak wajib. hehehehe… menurutku lho…. hahaha….
PICT1107.JPG

Mengapa pedang ?

Mengapa pedang yang menjadi sarana untuk melatih diri ? jika dilihat secara awam, ada sih fungsi pedang ? pastinya untuk membunuh jika saat jaman perang, atau memotong sesuatu kecuali bahan makanan di dapur… hehehehe…. atau buat jaga diri dan gaya2 an ? itu buat yang alay. Banyak yang melihat pedang menjadi sebuah hal negatif. Lalu melihat bagaimana pedang bisa mematikan atau membunuh sebuah jiwa, tak lain pasti melihat bagaimana cara pembuatannya. Cara membuat sebuah pedang tidak mudah, banyak di pukul, dipanaskan, di dinginkan, diukir, dipanaskan lagi, dst sampai akhirnya bisa menjadi sebuah barang yang berguna.

Begitu juga dengan Kendo. Aku terkadang berpikir bahwa menjadi seorang kendoka tak ubah nya sebuah pedang. Bahkan sebelum melihat bagaimana seorang kenshin dibentuk, melihat bagaimana demo Kendo yang banyak tidak menariknya dan hanya bisa mengerutkan dahi karena melihat saling pukul2 an, itu sama seperti melihat sebuah senjata tajam buat kebanyakan orang seperti yang aku bilang tadi. Dan ketika mulai masuk dalam hal berlatih kendo, bersiaplah dengan hal2 berbau kedisiplinan tinggi dan aturan2 yang kadang tak masuk akal, tapi masih bisa dipahami.

Seperti sebuah pedang yang awalnya dipanaskan untuk dibentuk, begitu juga aku waktu pertamakali masih kendo dengan segala macam kebosanan karena latihan yang monoton itu2 saja. Tapi berpikir untuk berhenti dari kendo itu masih jauh, karena masih penasaran dengan latihan memakai bogu (perlengkapan kendo). Dari awal sudah diajarkan sopan santun dalam dojo, ketentuan2 apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam dojo dana selama proses latihan. Seperti halnya bermain HP saat istirahat latihan, ini di beberapa dojo tidak di perbolehkan, termasuk di dojo ku sendiri. Atau berbicara saat latihan dengan teman, membahas hal lain dan menganggu proses latihan. Sebuah hal yang kecil tapi bisa jadi sebuah masalah dalam latihan. Dan ketika berontak, itulah dimana palu membentuk pedang itu mulai dipukul2 kan, untuk membentuk pribadi yang masih tetap dalam rel dan aturan yang yang ada. Dan pada saat tidak bersemangat, terkadang ada saja motivasi untuk kembali ke dojo dan berlatih lagi, atau sedang stuck pada sebuah keadaan, dalam pembentukan itu kadang kita harus mencari jalan keluarnya.

Itulah yang aku bilang menjadi kendo kenshin tidak mudah dan sangat keras dengan segala macam aturan2 nya. Memang beberapa senior beranggapan Kendo is Fun tapi ingatlah fun itu nggak free, semua masih ada aturan2 yang wajib diikuti. Untuk membuat sebuah pedang yang kuat juga perlu proses dan waktu yang lama. Terkadang ada beberapa yang merasa sudah bagus, akhirnya berhenti di bentuk tapi begitu dipakai ternyata tumpul dan gak berguna, dibuang akhirnya.  Itu seperti gambaran bahwa kendo adalah olahraga seumur hidup dan semua yang berjalan di jalan ini masih terus akan di tempa dengan cara berlatih dan berlatih. Beberapa orang ada yang sudah merasa baik, bagus, prestasi dalam pertandingan juga bagus, jadi lalai dan malas kembali latihan. Ini adalah pedang yang tadi aku bilang tidak bisa dipakai, tidak berguna, dan akhirnya akan dibuang juga. Kita tidak tahu sudah bagus atau belum karena kita adalah pedang yang masih harus banyak di tempa agar menjadi bagus, para sensei lah yang bisa menilai, karena merekalah penempa kita di jalan ini.

Jadi, begitulah yang bisa aku sedikit share tentang memaknai pedang dalam kacamata kendo ku yang masih tidak seberapa ini. Masih banyak hal2 yang butuh “dipukul” supaya menjadi pribadi lebih baik.

Thanks for reading guys.

Asageiko : Teriakan semangat di kala matahari terbit

Jpeg

Helo guys,
Dalam kendo, banyak juga anggota yang asing dengan istilah2 gerakan atau suatu kegiatan, mungkin salah satunya asageiko. Asageiko adalah gabungan dari Asa, yang berarti pagi, dan geiko/keiko yang berarti latihan. Jadi Asageiko adalah latihan pagi, tapi bukan asal pagi. Asageiko biasa dilakukan mulai dari subuh, atau ketika matahari belum muncul dan selesai ketika matahari sudah mulai muncul dan bersinar. Kalau di Indonesia, dengan waktu Indonesia bagian barat, mungkin waktu yang cocok adalah mulai jam 05.00 – 07.30 WIB.

Apa manfaat asageiko ?

Jika melihat jam yang begitu pagi dan masih enak2 nya di kasur buat lanjutin mimpi, banyak kendoka yang akan berpikir dua kali untuk melakukan latihan sepagi itu, tapi jika melihat lebih dalam jalan pedang ini, maka akan kita temukan manfaatnya, menurut aku. Asageiko mengajarkan kita untuk menjadikan diri bukan menjadi pemalas, menyambut hari dengan semangat baru setiap paginya. Seperti yang diajarkan pada kendo untuk melatih diri menjadi lebih baik. Selain itu, berlatih pagi hari membuat kita menjadi lebih sehat karena dapat menghirup udara lebih segar dan bersih ketimbang saat hari mulai siang.

Di Malang sendiri baru 2 minggu ini melalukan asageiko. Yah buat aku yang biasa pulang pagi jam 2 atau jam 3 lumayan buat pegel juga. Bayangkan pulang jam segitu, lalu jam 5 pagi sudah harus berangkat e tempat latihan. Tapi benar hal ini membuat kita jadi harus melawan rasa malas itu buat bangun pagi meski nanti siang bisa tidur lagi sih hahaha… tapi setidaknya ada hal yang membuat kita jadi lebih disiplin dalam berlatih. Bahkan beberapa yang berlatih pagi hari merasa badan lebih segar ketika berangat kerja. Buat aku Asageiko adalah cara latihan yang berbeda, selain waktu pagi hari, kita juga terbatas waktu berlatih. Sementata di sisi lain spiritual, buat aku bisa salah satu cara menyambut kembali kebaikan Tuhan atas hidup dan nafas yang masih diberikan pada hari ini. Meet your God before the sun meet you, and thanks to Him for the grace.

Thanks for reading.

Zanshin : Show your respect

Hello guys, berbicara tentang kendo memang tidak ada habisnya, bahkan mungkin beladiri lain juga. Buat kebanyakan praktisi beladiri yang mendalami setiap hobby beladiri mereka, akan banyak nilai2 untuk aplikasi filosofi beladiri yang di jalani dalam kehidupan sehari2. Kendo, adalah salah satu yang sedang aku coba terapkan filosofi2 nya dalam kehidupan dan jika kita bisa merasakan, itu akan bisa berdampak pada kehidupan kita lho.

kendo_small_cartoon

Kendo, tidak hanya sekedar beladiri, tetapi juga ada seni dan filosofi dalam ajarannya. Buat ku beladiri satu ini tak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga melatih pembentukan mental diri dan jiwa. Seperti semua artikel ku tentang kendo, aku selalu menggambarkan bahwa kendo adalah beladiri dengan banyak rasa semangat, pantang menyerah, dan hormat. Kendo diawali dan diakhiri dengan hormat, ini terlihat pada gerakan sonkyo. Selain itu, ada juga gerakan zanshin. Gerakan ini dalam tekniknya adalah memutar badan untuk bersiap kembali menerima serangan lawan setelah sebelumnya kita memukulnya terlebih dahulu kemudian melawatinya. Bagi setiap kenshin pemula, gerakan ini wajib dilakukan setelah memukul lawan atau sasaran (motodachi), tak lain hal nya adalah untuk membuat si penyerang (kakarite) siap menghadapi serangan selanjutnya dari lawan. Dalam gerakannya pun saat memutar disarankan tidak membelakangi lawan, maksudnya bukan berarti kita langsung membalik kan badan, tetapi jika setelah kita pukul lawan bergeser ke sebelah kiri, maka kita harus memutar ke sebelah kanan, begitu sebaliknya.

Sekarang dalam filosofinya, zanshin adalah sikap menghargai lawan. Ya, menghargai lawan dengan membalik kan badan kembali setelah memukul. Dalam pengertian ku, hal ini adalah untuk tidak meremehkan lawan. Pada setiap kesempatan berlatih bersama junior ku, aku selalu membalikkan badan tersebut setiap habis memukul mereka. Terkadang sebagai seorang senior, beberapa orang tidak mau melakukan zanshin pada lawan nya yang lebih junior atau tak sehebat skill nya dia, kadang bisa menjadi seorang yang arogan dan sombong bila orang awam melihatnya. Tapi hal itu jangan ditiru, karena juga tidak semua senior paham akan hal itu.

Ok guys, sekian dulu sedikit penjelasan tentang zanshin yang aku tahu, maaf jika penjelasan ini kurang bisa diterima atau ada yang kurang, hehehe… see you 🙂

Bullying dalam Kendo

Halo, selamat tahun baru 2016, mohon bantuannya untuk tahun ini dan bimbingannya… hehehehe. Ini juga merupakan postingan pertama di tahun 2016 lho… hahahhaa…
Maaf jika akhir2 ini jarang posting, yah selain banyak keperluan lain, juga kadang lagi malas nulis aja hehehehe…. Ok, kembali pada judul, Bullying dalam kendo. Aku tertarik mengambil judul ini setelah melihat sebuah artikel dari blog kendo di sini. Kemudian aku coba menggambarkan dalam rutinitas dalam keseharian dojo kendo sih, dan isi dari artikel itu cukup membuat aku berpikir tentang attitude ku dan yang lain dalam dojo, apa sudah benar ya ? hehehe…

IMG_0029

Bullying  adalah asal kata dari bully yang berarti “ancaman”, biasanya hal ini terjadi pada mereka yang lemah. Tindakan ini bisa bermacam2, dari hal verbal bahkan sampai fisik. Dari verbal mungkin seperti membentak, mengancam, menghina, bahkan berkata2 kasar, kalau dalam hal fisik sudah berarti memukul, mendorong, dll yang pastinya itu berhubungan langsung dengan fisik dan membuat tak nyaman. Akibat dari bullying ini bagi mereka yang tidak sanggup menghadapinya bisa berakibat macam2, seperti minder, tertutup dan menjadi takut, serta yang parahnya bisa berakibat stress yang berujung pada kematian, bunuh diri. Karena itu tidak heran jika beberapa waktu belakangan ini event2 seperti MOS, OSPEK, dll banyak diawasi oleh guru atau bahkan ditiadakan, karena hal ini sangat rentan dengan bullying.

Lalu apa hubungannya dengan kendo ?

Layaknya seni beladiri lain, pasti ada sedikit banyak bullying dalam sebuah komunitas seperti ini. Tak hanya dalam hal secara fisik, tetapi juga non fisik atau verbal. Hal ini bukan berarti komunitas itu seperti ini atau seperti itu, ini biasanya terjadi dari seorang OKNUM yang melakukan tindakan seperti itu, bukan berarti semua anggota begitu tetapi jika OKNUM itu adalah seseorang yang terpandang di komunitas tersebut, bisa jadi di contoh oleh para junior mereka. Kendo sangat rentan juga dalam hal2 seperti ini karena juga banyak kontak fisik dalam kendo, bahkan mungkin ada ketakutan dalam diri setiap kenshin muda atau beginer saat pertamakali harus sparring dengan mereka yang lebih pengalaman padahal masih belum saling serang. Selain itu sikap pantang menyerah dan disiplin yang ditanamkan dalam diri masing2 kenshin membuat para senior atau pelatih harus bekerja keras untuk membentuk sikap seperti itu, dan bisa dibilang akan sangat bisa berimbas bullying dalam proses pembentukannya.

Karakter tiap manusia berbeda2, begitu juga dengan para senior yang ada di dalam komunitas kendo. Ada yang keras, lembut, logis, dll, ada macam2 karakter, begitu juga dengan kenshin2 muda yang juga bermacam2 karakter. Penyampaian materi pun juga bermacam2 dari masing2 orang, begitu pula penerimanya. Pernah aku lihat seorang senior yang keras dalam menyampaikan materi pada para juniornya yang bermacam2 karakternya. Tak jarang saat junior melakukan salah, senior menegurnya dengan keras, bahkan saat sparring sang senior beberapa kali “menghajar” si junior karena tidak paham materi yang diberikan hingga si junior jatuh bangun menghadapi sang senior. INi bisa dibilang tindakan bullying.

Lantas bagaimana seharusnya menghindari hal tersebut dalam kendo ?

Berlatih kendo itu banyak manfaat dan tujuannya, jika kamu ingin berlatih untuk fisik mu, kendo bisa melakukan itu. Berlatih dengan keras dengan tujuan membuat fisikmu lebih bagus, kamu bisa melakukan setiap gerakan kendo itu. Berlatih kendo dengan tujuan mendapatkan banyak teman, bisa juga kamu lakukan karena memang belakangan ini semakin banyak mereka yang mulai suka dengan beladiri satu ini. Tetapi hal yang penting dalam berlatih kendo adalah MELATIH KARAKTER DALAM DIRI MU SENDIRI. Inti dari belajar kendo dan apa yang diajarkan adalah melatih jiwa kita, melatih hati, dan cara berpikir kita. Kamu bisa berlatih kendo dengan tujuan supaya badan bagus, banyak teman, dll tapi ingat, dalam berlatih kamu juga harus melewati latihan untuk dirimu sendiri, karakter mu sendiri.

Menjadi seorang senior dalam sebuah dojo kecil di kota Malang ini, bukan hal mudah dalam melatih kenshin2 muda yang ingin mengenal kendo. Membentuk sebuah karakter orang lain seperti apa yang sudah tertulis secara paten dalam Jalan Pedang ini memang tidak mudah. Terkadang ada cara tegas dan keras dalam membentuknya, tapi sebisa mungkin itu tidak membuat si kenshin muda ini terasa terancam atau ter bully. Beruntung dalam menyampaikan materi dan share ilmu dalam setiap latihan aku memiliki senior2 dan sensei yang lebih berpengalaman. Beberapa kali mungkin tindakan ku mengarah pada bullying pada para junior, tapi mereka selalu mengingatkan kembali pada tujuan awal aku melatih mereka. Membentuk karakter tidak harus dengan bulllying, banyak metode yang bisa diterapkan dan itu lebih baik pastinya. Tidak ada kan di dunia ini orang yang suka di bentuk dengan bullying. Jika kita membentuk karakter seseorang dengan hal seperti itu, bisa jadi orang tersebut menjadi lebih buruk sikap bullying nya pada junior2 nya kelak.

Jadi, kendo memang sangat rentan dengan sikap bullying, tetapi hal itu bisa di hindari dengan sadar akan inti utama dalam kendo, melatih mental, pola pikir, dan sikap kita sesuai dengan jalan pedang. Penting juga buat kita memberikan pengertian dalam setiap tindakan junior kita apakah sudah sesuai atau tidak. Sebagai seorang yang lebih pengalaman dalam hal melatih gerakan , cara memukul, dll, jangan sekali2 menggunakan gerakan yang bahkan juniormu pun belum tau bagaimana cara mengantisipasinya. Serta paling penting adalah cara penyampaian setiap materi dan tutur kata dalam latihan.

Semoga artikel ini bermanfaat… selamat beraktifitas … 🙂

Kendo, The way of sword

Dalam setiap olahraga beladiri, Jepang khususnya, selalu menekankan hormat pada lawan (respect) dalam kita berlatih. Sikap saling menghargai lawan juga di tanamkan dalam setiap beladiri, tanpa harus kita bersikap jumawa atau sombong jika kita lebih hebat dari lawan kita. Dari sejak SMP kelas 1, aku mulai mengenal olahraga beladiri, ini dimulai dengan karate dan aku tergabung dalam perguruan Institut Karatedo Indonesia (INKAI). Dasar2 olahraga beladiri tangan kosong ini pun tetap memegang teguh hormat kepada lawan, bahkan sebelum memulai latihan kita ada upacara dengan mengucapkan janji karate, yang kira2 bunyinya seperti ini :

Sumpah Karate :
1. Sanggup memelihara kepribadian

2. Sanggup patuh pada kejujuran

3. Sanggup mempertinggi prestasi

4. Sanggup menjaga sopan santun

5. Sanggup menguasai diri

Itu adalah sumpah yang selalu kita ucapkan setiap akan memulai latihan dan sesudah latihan. Memang hanya sebuah ucapan, tetapi jika kita katakan ber-ulang2 dan secara intens, secara tidak sadar akan masuk dalam alam bawah sadar kita dan akan terbentuk dalam sikap kita se-hari2. Yah kira2 9 tahun aku berada di dunia per-karate an, yang nantinya akan aku jadikan perbandingan dengan jalan yang aku dalami sekarang ini.
Maai
Menginjak pada tahun 2009, aku mengenal Kendo, the way of sword. Kendo bisa dibilang adalah modernisasi dari latihan para samurai jaman dahulu. Jika jaman dahulu para samurai berlatih untuk pedang dengan pakai pedang2 kayu atau bahkan pedang sungguhan, sekarang lebih di modern kan dengan pedang bambu, shinai. Pengajaran yang hampir sama ada dalam kendo, yaitu menghargai lawan, sikap terhadap lawan, bagaimana membawa diri dalam dojo atau diluar dojo, menghormati para senpai/sensei, dll. Tapi ada beberapa perbedaan dari kedua beladiri ini. Jika kita mengenal beladiri secara umum, ada tingkatan2 tertentu, dalam hal ini grade atau sabuk. Jika di karate dari putih, kuning, hijau, biru, coklat, dan hitam dengan grade2 semacam kyu 10 – kyu 1 baru setelah itu DAN, hal yang sama juga ada dalam kendo, tetapi tidak ada penanda untuk grade/tingkatan.

Lalu bagaimana menilai nya ?

Selain bisa melihat saat upacara sebelum dan sesudah latihan dimana yang paling kanan adalah yang mempunyai grade tinggi, grade seseorang dalam kendo, bisa dilihat dari gerakan mereka saat berlatih. Biasanya grade ini hanya diketahui oleh komunitas sendiri, si A itu DAN 1, si B itu Kyu3, dst. Para kenshin (sebutan untuk praktisi kendo), sedari awal sudah diajarkan untuk tidak show off dalam tingkah laku mereka di dalam dojo dan dilihat oleh orang luar dojo. Cukuplah hanya mereka sendiri yang tahu seberapa hebat skill yang dimiliki seseorang itu.

IMG_2457

Dalam kendo juga kita diajarkan untuk lebih bisa menghargai lawan dan “membunuh” mereka dengan cara yang terhormat. Dalam setiap latihan atau pertandingan kendo, setiap kenshin wajib melihat bagaimana kondisi shinai mereka. Ada yang pecah kah atau rusak kah, itu tidak boleh dipakai, jadi benar2 harus bagus untuk dipakai, bahkan jika pecah dan ada selotip, itu pun juga tidak boleh. Jadi benar2 harus menjaga keselamatan lawan kita. Lalu juga menghargai lawan dalam hal ini adalah tidak adanya selebrasi jika kita menang atas lawan kita, atau ekspresi2 provokatif yang membuat down sang lawan, kita tetap harus menghormati lawan kita. Jika kita melakukan hal itu pada saat pertandingan, poin kita bisa di cabut kembali dan mendapatkan pelanggaran. Itulah kendo.

Semangat pantang menyerah juga adalah hal yang patut ditanamkan dalam setiap kenshin. Tidak mudah bergerak fleksibel dengan memakai pelindung (bogu), yang beratnya kira2 5 kilogram sambil berusaha memukul titik2 poin lawan kita secara terus menerus. Belum lagi ketika berangkat dan pulang latihan, kita diwajibkan membawa bogu itu untuk dirawat. Mungkin beberapa dojo di Jepang ada tempat khusus di dojo mereka, tetapi berbeda dengan kendo di Indonesia. Kita diajarkan untuk bertanggungjawab akan hal ini, meski itu hanya pinjaman dari dojo, tetapi wajib bagi kita merawatnya.

Kendo_edit_by_Sturmgeist
Dan yang terakhir, ketika sudah beranjak menjadi seorang senior (senpai), wajiblah bagi setiap kenshin menjadi contoh bagi para juniornya (kohai) dari segala sisi. Mungkin tidak bisa dalam hal karakter, tetapi mulailah dari setiap sopan santun, tata krama kita di dojo dan pastinya semangat kita. Jadi, buat para senior yang mungkin mempunyai kohai yang malas2an latihan, mulailah semangat dari diri kalian sendiri. Karena aku yakin sebuah energi yang dibawa seseorang, bisa mempengaruhi yang lain, karena itu mulailah dari energi yang positif.

Kesimpulannya, sebuah beladiri bukanlah hanya sebuah ajang kita menjadi orang yang kuat dengan skill berkelahi yang hebat, tetapi jika kita mau lebih mengenalnya lebih dalam, itu dapat membuat hidup kita berubah menjadi lebih baik, karena apa yang diajarkan adalah baik adanya untuk bekal hidup kita. Dalam hal ini aku pernah belajar dari 2 aliran beladiri berbeda tetapi dari satu negara yang sama, dalam karate aku bisa belajar tentang bagaimana harus bersikap menghadapi orang lain, tetapi di kendo aku bisa belajar bagaimana seharusnya aku bisa membentuk cara pikir, karakter, dan hidup yang bisa lebih baik.

Untitled-1 copy