Kendo, The way of sword

Dalam setiap olahraga beladiri, Jepang khususnya, selalu menekankan hormat pada lawan (respect) dalam kita berlatih. Sikap saling menghargai lawan juga di tanamkan dalam setiap beladiri, tanpa harus kita bersikap jumawa atau sombong jika kita lebih hebat dari lawan kita. Dari sejak SMP kelas 1, aku mulai mengenal olahraga beladiri, ini dimulai dengan karate dan aku tergabung dalam perguruan Institut Karatedo Indonesia (INKAI). Dasar2 olahraga beladiri tangan kosong ini pun tetap memegang teguh hormat kepada lawan, bahkan sebelum memulai latihan kita ada upacara dengan mengucapkan janji karate, yang kira2 bunyinya seperti ini :

Sumpah Karate :
1. Sanggup memelihara kepribadian

2. Sanggup patuh pada kejujuran

3. Sanggup mempertinggi prestasi

4. Sanggup menjaga sopan santun

5. Sanggup menguasai diri

Itu adalah sumpah yang selalu kita ucapkan setiap akan memulai latihan dan sesudah latihan. Memang hanya sebuah ucapan, tetapi jika kita katakan ber-ulang2 dan secara intens, secara tidak sadar akan masuk dalam alam bawah sadar kita dan akan terbentuk dalam sikap kita se-hari2. Yah kira2 9 tahun aku berada di dunia per-karate an, yang nantinya akan aku jadikan perbandingan dengan jalan yang aku dalami sekarang ini.
Maai
Menginjak pada tahun 2009, aku mengenal Kendo, the way of sword. Kendo bisa dibilang adalah modernisasi dari latihan para samurai jaman dahulu. Jika jaman dahulu para samurai berlatih untuk pedang dengan pakai pedang2 kayu atau bahkan pedang sungguhan, sekarang lebih di modern kan dengan pedang bambu, shinai. Pengajaran yang hampir sama ada dalam kendo, yaitu menghargai lawan, sikap terhadap lawan, bagaimana membawa diri dalam dojo atau diluar dojo, menghormati para senpai/sensei, dll. Tapi ada beberapa perbedaan dari kedua beladiri ini. Jika kita mengenal beladiri secara umum, ada tingkatan2 tertentu, dalam hal ini grade atau sabuk. Jika di karate dari putih, kuning, hijau, biru, coklat, dan hitam dengan grade2 semacam kyu 10 – kyu 1 baru setelah itu DAN, hal yang sama juga ada dalam kendo, tetapi tidak ada penanda untuk grade/tingkatan.

Lalu bagaimana menilai nya ?

Selain bisa melihat saat upacara sebelum dan sesudah latihan dimana yang paling kanan adalah yang mempunyai grade tinggi, grade seseorang dalam kendo, bisa dilihat dari gerakan mereka saat berlatih. Biasanya grade ini hanya diketahui oleh komunitas sendiri, si A itu DAN 1, si B itu Kyu3, dst. Para kenshin (sebutan untuk praktisi kendo), sedari awal sudah diajarkan untuk tidak show off dalam tingkah laku mereka di dalam dojo dan dilihat oleh orang luar dojo. Cukuplah hanya mereka sendiri yang tahu seberapa hebat skill yang dimiliki seseorang itu.

IMG_2457

Dalam kendo juga kita diajarkan untuk lebih bisa menghargai lawan dan “membunuh” mereka dengan cara yang terhormat. Dalam setiap latihan atau pertandingan kendo, setiap kenshin wajib melihat bagaimana kondisi shinai mereka. Ada yang pecah kah atau rusak kah, itu tidak boleh dipakai, jadi benar2 harus bagus untuk dipakai, bahkan jika pecah dan ada selotip, itu pun juga tidak boleh. Jadi benar2 harus menjaga keselamatan lawan kita. Lalu juga menghargai lawan dalam hal ini adalah tidak adanya selebrasi jika kita menang atas lawan kita, atau ekspresi2 provokatif yang membuat down sang lawan, kita tetap harus menghormati lawan kita. Jika kita melakukan hal itu pada saat pertandingan, poin kita bisa di cabut kembali dan mendapatkan pelanggaran. Itulah kendo.

Semangat pantang menyerah juga adalah hal yang patut ditanamkan dalam setiap kenshin. Tidak mudah bergerak fleksibel dengan memakai pelindung (bogu), yang beratnya kira2 5 kilogram sambil berusaha memukul titik2 poin lawan kita secara terus menerus. Belum lagi ketika berangkat dan pulang latihan, kita diwajibkan membawa bogu itu untuk dirawat. Mungkin beberapa dojo di Jepang ada tempat khusus di dojo mereka, tetapi berbeda dengan kendo di Indonesia. Kita diajarkan untuk bertanggungjawab akan hal ini, meski itu hanya pinjaman dari dojo, tetapi wajib bagi kita merawatnya.

Kendo_edit_by_Sturmgeist
Dan yang terakhir, ketika sudah beranjak menjadi seorang senior (senpai), wajiblah bagi setiap kenshin menjadi contoh bagi para juniornya (kohai) dari segala sisi. Mungkin tidak bisa dalam hal karakter, tetapi mulailah dari setiap sopan santun, tata krama kita di dojo dan pastinya semangat kita. Jadi, buat para senior yang mungkin mempunyai kohai yang malas2an latihan, mulailah semangat dari diri kalian sendiri. Karena aku yakin sebuah energi yang dibawa seseorang, bisa mempengaruhi yang lain, karena itu mulailah dari energi yang positif.

Kesimpulannya, sebuah beladiri bukanlah hanya sebuah ajang kita menjadi orang yang kuat dengan skill berkelahi yang hebat, tetapi jika kita mau lebih mengenalnya lebih dalam, itu dapat membuat hidup kita berubah menjadi lebih baik, karena apa yang diajarkan adalah baik adanya untuk bekal hidup kita. Dalam hal ini aku pernah belajar dari 2 aliran beladiri berbeda tetapi dari satu negara yang sama, dalam karate aku bisa belajar tentang bagaimana harus bersikap menghadapi orang lain, tetapi di kendo aku bisa belajar bagaimana seharusnya aku bisa membentuk cara pikir, karakter, dan hidup yang bisa lebih baik.

Untitled-1 copy

Penulis: kuma

Yang punya ni e'Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: